Gejala, Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Diabetes Mellitus (DM)

Bagikan Artikel :

Gejala penyakit Diabetes Mellitus (DM) dari satu penderita ke penderita lainnya tidaklah selalu sama, bahkan ada yang tidak menunjukkan gejala apapun sampai pada saat tertentu. Tiga gejala permulaan yang ditunjukkan adalah banyak makan (polifagia), banyak minum (polidipsia), banyak kencing (poliuria).

Gejala Kronik yang sering timbul adalah kesemutan, kulit terasa panas atau seperti tertusuk-tusuk jarum, rasa tebal di kulit, sehingga kalau berjalan seperti diatas bantal atau kasur, kram, capai, mudah mengantuk, mata kabur, gatal disekitar kemaluan, terutama wanita, gigi mudah goyah dan mudah lepas, kemampuan seksual menurun, bahkan impoten.

Upaya pencegahan pada DM ada tiga jenis atau tahap yaitu : Pencegahan primer, Pencegahan sekunder, Pencegahan tersier. Pencegahan primer merupakan semua aktivitas yang ditujukan untuk timbulnya hiperglikemia pada individu yang berisiko untuk jadi DM atau pada populasi umum.

Pencegahan sekunder dengan menentukan pengidap DM sedini mungkin, misalnya dengan tes penyaringan terutama pada populasi risiko tinggi, dengan demikian pasien DM yang sebelumnya tidak terdiagnosis dapat terjaring, hingga dengan demikian dapat dilakukan upaya untuk mencegah komplikasi atau kalaupun sudah ada komplikasi masih reversibel.

Pencegahan tersier merupakan semua upaya untuk mencegah komplikasi atau kecacatan akibat komplikasi itu. Usaha ini meliputi mencegah timbulnya komplikasi, mencegah progresi dari pada komplikasi itu supaya tidak menjadi kegagalan organ, mencegah kecacatan tubuh.

Kelompok Obat yang digunakan pada penyembuhan DM adalah :

Sulfonylurea merupakan kelompok obat yang terutama bermanfaat pada pengidap DM kurang dari lima tahun. Karena obat generasi awal (seperti glipizide, gluburide) ini dapat meningkatkan insulin dengan cepat, obat ini diminum segera sesudah makan, supaya tidak terjadi hipoglikemia. Generasi berikut dari sulfonylurea lebih aman, yaitu glimepiride.

Obat golongan lain yang bukan sulfonylurea adalah repaglinide dan nateglinide; yang merangsang pelepasan insulin melalui pengaruh langsungnya pada sel beta pankreas. Kelompok obat golongan terakhir ini diberikan sebelum makan, dengan tujuan menurunkan hiperglikemia setelah makan. Kerja obat ini singkat dan cepat, sehingga efek hipoglikemia lebih rendah. Kelompok obat ini harus hati-hati diberikan kepada orang dengan gangguan fungsi ginjal, atau, wanita hamil dan menyusui, dan stres berat. Kelompok obat ini juga tidak dapat dibenikan pada DM tipe 1.

Penghambat Aifa-glukosidase, Contoh golongan obat ini adalah acarbose. Acarbose menurunkan hiperglikemia postprandial dengan cara memperlambat penyerapan glukosa di usus. Acarbose tidak mempengaruhi ambilan glukosa maupun sekresi insulin, obat ini diminum sebelum makan. Efek samping antara lain kentut (flatus), diare, tinja lembek, dan perut kembung.

Biguanid, Contoh golongan obat ini adalah metformin. Mekanisme kerja biguanid dengan menurunkan produksi glukosa di hati dan sedikit memperbaiki ambilan glukosa di janingan perifer. Selain itu, obat ini juga menurunkan kadar glukosa saat puasa dan kadar insulin, memperbaiki profil lipid dan membantu penurunan berat badan. Itu sebabnya metforrnin diberikan pada penderita DM yang gemuk. Efek samping: diare, mual, nafsu makan turun, rasa logam pada lidah. Golongan obat ini tidak boleh dibenikan pada penderita dengan gangguan hati, ginjal, dan peminum berat alkohol.

Thiazolindione, Kelompok obat ini termasuk obat generasi baru, bekerja dengan menurunkan resistensi insulin, menaikkan sensitivitas insulin, meningkatkan ambilan glukosa di jaringan penifer, serta mengurangi produksi glukosa di hati. Kelompok obat ini antara lain troglitazone, rosiglitazone, dan pioglitazone. Thiazolindione tidak boleh diberikan pada pendenita dengan penyakit hati, gagal jantung kongestif berat. Pemberian pada wanita hamil tidak dlianjurkan.

Insulin tidak aktif terhadap enzim-enzim yang terdapat di saluran pencernaan, oleh karena itu harus diberikan melalui suntikan; di bawah kulit. Insulin biasanya disuntikkan ke lengan atas, paha, pantat, atau perut; penyerapan dari situs anggota tubuh dapat ditingkatkan jika ekstremitas berat digunakan dalam latihan setelah suntikan.

loading…


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.